BANGKIT DENGAN LITERASI DI ERA PANDEMI
GADGET SEBAGAI LILIN LITERASI
Oleh
: Destri Oktariyanti Humendru
Pendahuluan
Pandemi
Corona Virus Disease (Covid-19) membuat keadaan negeri ini tidak baik-baik saja.
Dengan pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), mobilitas
penduduk menjadi terbatas dan implikasi yang dirasakan tiap individu secara
langsung yakni timbul rasa cemas dan takut akan perubahan yang terjadi secara
signifikan di segala aspek dalam jangka waktu yang tidak dapat dipastikan.
Kondisi tersebut menimbulkan gejala psikomatik yang membuat banyak asumsi dan
opini yang tidak didasari pada fakta, sehingga menambah kegaduhan di ruang
publik karena bersifat sesat dan bernuansa kebohongan / hoaks.
Penanganan
Covid -19 tidak hanya terkait sistem kesehatan, namun juga tingkat literasi
masyarakat. Menurut KBBI, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca atau
yang secara teknis adalah sebuah kegiatan keaksaraan. Masyarakat berliterasi
cenderung lebih siap menghadapi dampak buruk pandemi. Selain berperan penting
dalam menentukan status kesehatan masyarakat, menurut WHO dalam Health Literacy The Solid Fact (2013), tingkat literasi menjadi penentu
utama status kesehatan seseorang dibanding pendapatan, status pekerjaan,
tingkat ras, atau etnis.
Kegagapan Literasi dan Implikasinya
Pandemi
Covid-19 tidak hanya dialami di Indonesia namun secara global. Masyarakat
Indonesia seringkali menerima informasi yang berkaitan dengan wabah Covid-19
ini yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Pada situasi ini, publik kerap
kebingungan dalam memilah antara berita valid dan berdasarkan pada fakta/data
atau berita bohong/hoaks yang sifatnya opini dan tidak bertanggung jawab.
Sebagian orang yang memiliki taraf pengetahuan dan literasi memadai, mungkin
akan mudah mensortir berita valid dan tidak valid. Titik masalahnya ialah
budaya literasi masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah mengakibatkan
produksi berita kebohongan yang beredar dipublik dan dikonsumsi secara
mentah-mentah oleh masyarakat luas semakin tinggi. Setidaknya ada dua persoalan
yang terkait dengan berita Covid-19 dan menjadi diskursus publik yakni berita
hoaks dan teori konspirasi.
1. Berita
hoaks dan Disinformasi
Menurut
data dari Kominfo pada april 2020, tercatat sebanyak 1.125 berita hoaks terkait
covid-19 yang beredar luas melalui platform Facebook,
Twitter, Instagram, Whatsapp, Youtube, dan berbagai media daring lainnya.
Sebanyak 77 tersangka sedang menjalani proses hukum dan 12 diantaranya telah
ditahan. Jika ditelusuri lebih dalam, motif pembuatan dan penyebaran berita
hoaks tentu saja ada yang sengaja diproduksi dan tidak sengaja karena
pengetahuan yang minim. Salah satu informasi tidak valid terkait pencegahan
virus Covid-19 yakni penggunaan cairan desinfektan, seharusnya cairan ini
digunakan untuk pembunuhan bakteri/virus pada benda-benda mati. Namun karena
informasi yang beredar tidak valid, banyak yang menggunakan cairan desinfektan
pada tubuh manusia melalui penyemprotan dan terdapat bilik desinfektan yang
harus dilalui oleh orang pada tiap gedung hingga tiap gerbang perumahan.
Sedangkan menurut WHO penyemprotan cairan desinfektan pada tubuh manusia sangat
berbahaya apalagi jika sampai menyentuh selaput lendir manusia.WHO menyebutkan
bahwa cairan ini hanya membunuh virus pada permukaan benda-benda mati saja bukan
pada kulit manusia karena pada dasarnya fungsi desinfektan berbeda dengan
antiseptik. Selain itu, banyak pula informasi tersebar di group media sosial
seperti whatsapp dan facebook yang berisi tentang obat-obatan untuk mencegah
bahkan mengobati virus Covid-19. Pesan-pesan tersebut sebenarnya memiliki hal
yang positif untuk memberikan informasi kesehatan jika diimplementasikan dengan
benar. Namun akan menyesatkan jika penggunaannya tidak sesuai konteks Covid-19.
Penulis
berpendapat bahwa jumlah berita hoaks akan berbanding terbalik dengan taraf
budaya literasi. Artinya jika masyarakat Indonesia mempunyai taraf literasi
yang baik maka berita hoax akan dengan mudah dikikis secara alamiah.
Sebaliknya, jika taraf literasinya rendah tentu saja produksi berita hoaks akan
dengan mudah tersebar di ruang publik.
2. Teori
Konspirasi
Orang
yang menganut teori konspirasi jika dilihat secara akademis biasanya tidak
terbiasa membaca buku secara utuh dan mendogma satu sumber referensi yang tidak
valid. Sehingga menyebabkan malas berpikir karena ingin menggunakan cara alternatif
untuk melihat suatu fenomena tanpa melalui proses kajian secara komprehensif.
Kepercayaan
pada konspirasi ini berakar pada narsisme kolektif, keyakinan bahwa kelompok
sosial sendiri lebih baik, tetapi kurang dihargai oleh orang lain.
Solusi dan Produktifitas Literasi
ditengah Pandemi
Ada
beberapa cara yang dapat digunakan untuk menjaga produktifitas selama pandemi
dan mencegah konsumsi informasi dan pengetahuan yang bersifat hoaks/kebohongan.
1. Verifikasi
informasi/berita
Di
era modern saat ini, pemerintah sebenarnya sudah menyediakan kanal berita resmi
dan aplikasi untuk mendukung penyebaran informasi kepada masyarakat melalui
berbagai platform. Seperti pada whatsapp yang meluncurkan akun chat resmi dari
Kemenkes untuk merespon segala informasi yang berkaitan dengan Covid-19 di
nomor 119 dan akun web resmi serta call center yang tersedia pada masing-masing
daerah.
Ketersediaan
layanan informasi tersebut didukung pada tindakan preventif pribadi untuk
menangkal berita hoaks. Pertama kenali berita palsu dengan memperhatikan
tanda-tanda yang dapat membantu memutuskan apakah itu informasi palsu. Misalnya
pesan diteruskan tanpa sumber atau bukti. Kedua berhenti dan pikirkan sebelum membagi
pesan yang diteruskan. Ketiga bantu hentikan penyebaran. Jika sadar bahwa
informasi tersebut tidak benar dan membuat klaim medis tidak resmi, tanyakan
pada pengirim apakah mereka dapat memverifikasikan informasi tersebut. Keempat
verifikasi dengan sumber lain. Cari faktanya secara online dan periksa situs
berita terpercaya. Kelima laporkan pesan atau akun yang terbukti membagikan
informasi tidak akurat.
2. Membaca
buku fisik atau e-book
Salah
satu upaya terbaik dalam rangka mencegah informasi yang tidak valid adalah
dengan membaca buku. Membiasakan kegiatan membaca buku dirumah akan mengikis
kebiasaan kita dalam mendapatkan informasi secara instant dan cenderung
bernuansa kebohongan/hoaks. Dengan membaca buku, pengetahuan terus bertambah,
menjadi hal positif bagi perkembangan budaya literasi sehingga dapat terus
memperkaya ide dimanapun dan dalam situasi apapun. Jika terkendala karena tidak
mempunyai buku fisik atau tidak bisa berkunjng ke perpustakaan dan taman baca,
banyak alternative yang dapat digunakan untuk membaca. Misalnya dengan
menggunakan e-book yang telah
tersedia secara luas dalam berbagai platform dalam gadget.
3. Membuat
tulisan positif
Membaca
dan menulis adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Langkah untuk
menuangkan ide yang kita dapat dari bekal membaca adalah kegiatan menulis. Dari
kedua hal inilah dapat dikatakan bahwa
“Gadget sebagai lilin literasi”. Kegiatan menulis bisa melalui media
apapun dan tidak harus selalu memikirkan kualitas penulisan dan sebagainya.
Yang utama adalah tulisan bernilai positif yang bisa memotivasi banyak orang .
Apabila terus memelihara kegiatan menulis, maka akan terjadi dialektika diruang
publik karena tulisan yang berdasarkan pada fakta/data akan membuat
keseimbangan informasi yang diterima.
Kegiatan
menulis tidak harus diabstraksikan dalam bentuk buku secara fisik. Sama hal nya
dengan membaca secara online, kegiatan menulis pun dapat dilakukan dengan
fleksibel seperti menuangkan dalam berbagai platform media sosial Twitter, Facebook, Instagram, Whatsapp, bahkan
jika memungkinkan akan menjadi jurnal-jurnal ilmiah. Membaca dan menulis adalah
satu mata rantai yang berkesinambungan. Jika produksi tulisan yang positif
terus dilakukan, maka akan tercipta berita/informasi yang berkualitas untuk
dibaca secara luas oleh masyarakat.
Simpulan
Dengan
perkembangan teknologi yang semakin canggih, kita dapat memanfaatkan salah satu
teknologi canggih berupa gadget di tengah pandemi Covid-19 yang secara global
sedang kita alami sebagai peningkatan dalam budaya literasi. Dengan
memanfaatkan alat canggih ini, banyak hal positif yang dapat kita lakukan untuk
menginspirasi banyak orang sehingga lebih tenang dalam menghadapai stigma buruk
Covid-19. Misalnya dengan membuat tulisan kreatif yang diraih dari bekal
membaca yang memberi hal positif kepada pembaca. Melalui kegiatan literasi
tersebut, masyarakat Indonesia bisa mensortir berita/informasi yang valid atau
yang tidak valid.
Daftar Pustaka
Sumarni,Ratna. (2018). Contoh Artikel Populer
dalam Bahasa Indonesia. Diambil
dari: https://dosenbahasa.com/contoh-artikel-populer. Diakses pada 9 November 2020, pukul 10.40
Forest W.H,Jr.(2007). Understanding
Information Literacy: A Primer .France :
UNESCO
Wardi, Marzuki. (2017). Pemberdayaan Surat
Kabar Dalam Menumbuhkan Minat
Baca Anak Sejak Dini. Diambil dari: http://wardiblogaddress.blogspot.com/2017/09/artikel.html. Diakses pada 9 November 2020, ukul 10.45
Maula,Ridha Ul.(2020). Punya Laptop Tapi
Tidak Menulis, Rugi. Diambil dari:
https://www.kompasiana.com/muhammad19288/5fa6b6d2d541df532b584592/pumya-laptop-tapi-tidak-menulis-rugi. Diakses pada 9 November 2020,pukul 10.55
Gunawan,Herry.(2020).Pandemi, Provokasi,
Hoaks dan Literasi. Diambil dari:
https://www.kompasiana.com/herguna86/5fa5f99e8ede480a1f625f92/pandemi-provokasi-hoaks-dan-literasi. Diakses pada 9 November 2020, pukul 10.58
Darmanto,Didik. (2020). Masyarakat dengan
tingkat literasi rendah akan lebih berat
menghadapi virus korona jenis baru ini.
Diambil dari: https://www.republika.id/posts/8013/literasi-dan-pandemi. Diakses pada 9 November 18.08
Redaksi.(2020). Kerinduan Literasi Di Saat
Pandemi Covid-19. Diambil dari:
https://gopos.id/kerinduan-literasi-di-saat-pandemi-covid-19/. Diakses pada 9 November 2020, pukul 18.13
Nurohmah,Ramdiani., Aini,Nurul., Kholik,Abdul
& Maryani,Novi. (2020).
Literasi Media Digital Keluarga di Tengah
Pandemi COVID-19. Educivlia: Jurnal
Pengabdian pada Masyarakat Volume 1 Nomor 2
Comments